Showing posts with label Pendidikan dan Pengasuhan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan dan Pengasuhan. Show all posts

Sunday, April 25, 2010

Pendidikan Keluarga




1.Pengertian Pendidikan

Kata pendidikan menurut etimologi berasal darikata dasar didik.Apabila diberi awalan me,menjadi mendidik makaakan membentuk kata kerja yang berarti memelihara dan memberi latihan(ajaran). Sedangkan bila berbentuk kata benda akan menjadi pendidikanyang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorangatau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upayapengajaran dan latihan.

1
Istilah pendidikan dalam konteks Islam telahbanyak dikenal dengan menggunakan term yang beragam, sepertiat-Tarbiyah, at-Ta’lim dan at-Ta’dib. Setiap term tersebutmempunyai makna dan pemahaman yang berbeda, walaupun dalam hal-haltertentu, kata-kata tersebut mempunyai kesamaan pengertian.

2
Pemakaian ketiga istilah tersebut, apalagi pengakajiannya dirujuk berdasarkan sumber pokok ajaran Islam (al-Qur’an dan al-Sunnah).Selain akan memberikan pemahaman yang luas tentang pengertianpendidikan Islam secara substansial, pengkajian melalui al-Qur’andan al-Sunnahpun akan memberi makna filosofis tentang bagaimanasebenarnya hakikat dari pendidikan Islam tersebut?

Dalam al-Qur’an Allah memberikan sedikitgambaran bahwa at-Tarbiyah mempunyai arti mengasuh,menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat,membesarkan dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks al-Isra maknaat-Tarbiyah sedikit lebih luas mencakup aspek jasmani dan rohani,sedangkan dalam surat asy-Syura hanya menyangkut aspek jasmani saja.

2. Pengertian Keluarga

Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagaiunit sosial terkecil dalam masyarakat, atau suatu organisasibio-psiko-sosio-spiritual dimana anggota keluarga terkait dalam suatuikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukanikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjagakeharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungansilaturrahim. Sementara satu keluarga dalam bahasa Arab adalahal-Usrohyang berasal dari kata al-asruyang secara etimologis mampunyai arti ikatan. Al- Razi mengatakanal-asru maknanya mengikat dengan tali, kemudian meluas menjadi segalasesuatu yang diikat baik dengan tali atau yang lain.

Dari beberapa pengertian di atas dapatdisimpulkan bahwa pengertian pendidikan keluarga adalah prosestransformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosialterkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budayayang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkanberbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi,keluarga dan masyarakat.

3. Bentuk-Bentuk Keluarga

Dalam norma ajaran sosial, asal-usul keluargaterbentuk dari perkawinan (laki-laki dan perempuan dan kelahiranmanusia seperti yang ditegaskan Allah dalm surat an-Nisa ayat satuyang berbunyi:

وخلق منها زوجهاوبث منها رجالا كثيرا ونساء
Artinya: Dan Ia ciptakan daripadanya pasangannya dan Ia tebarkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yangbanyak (an-Nisa: 1)

Asal-usul ini erat kaitannya dengan aturanIslam bahwa dalam upaya pengembang-biakan keturunan manusia,hendaklah dilakukan dengan perkawinan. Oleh sebab itu, pembentukankeluarga di luar peraturan perkawinan dianggap sebagai perbuatandosa.
Adapun bentuk-bentuk keluarga sebagaimanadijelaskan William J. Goode dapat diklasifikasikan ke dalam beberapabentuk:

1.
Keluarga nuklir (nuclear family) sekelompok keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum memisahkan diri membentuk keluarga tersendiri.
2.
Keluarga luas (extendard family) yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek, nenek yang sama termasuk dari keturunan masing-masing istri dan suami.
3.
Keluarga pangkal (sistem family) yaitu jenis keluaarga yang menggunakan sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua, seperti banyak terdapat di Eropa pada zaman Feodal, para imigran Amerika Serikat, zaman Tokugawa di Jepang, seorang anak yang paling tua bertanggungjawab terhadap adik-adiknya yang perempuan sampai ia menikah, begitu pula terhadap saudara laki-laki yang lainnya.
4.
Keluarga gabungan (joint family) yaitu keluarga yang terdiri dari orang-orang yang berhak atas hasil milik keluarga, mereka antara lain saudara laki-laki pada setiap generasi, dan sebagai tekanannya pada saudara laki-laki, sebab menurut adat Hindu, anak laki-laki sejak lahirnya mempunyai hak atas kekayaan keluarganya.

3

Sementara itu dalam hubungan keluarga, Jalaluddin Rahmat mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul KeluargaMuslim dalam Masyarakat Modern bahwa biasanya sepasang suami istri memiliki tiga struktur. Pertama,sruktur komplementer atau dengan kata lain dikenal dengan keluargatradisional. Kedua, struktur simetris atau yang sering disebut dengankeluarga modern. Ketiga, struktur pararel yang merupakan hubungan antara struktur simetris dan struktur komplementer yang kedu belahpihak tersebut saling melengkapi dan saling bergantung, tetapi dalamwaktu yang sama mereka memiliki beberapa bagian dari perilakukekeluargaan mereka yang mandiri.


4.

Pendidikan Keluarga

Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalammasyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangkamenanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilakuyang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga danmasyarakat.

Dalam buku TheNational Studi on Family Strength,Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menujuhubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu:

1.Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
2.Tersedianya waktu untuk bersama keluarga
3.Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak
4.Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak
5.Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi

Seiring kriteria keluarga yang diungkapkan diatas, sujana memberikan beberapa fungsi pada pendidikan keluarga yangterdiri dari fungsi biologis, edukatif, religius, protektif,sosialisasi dan ekonomis.

5
Dari beberapa fungsi tersebut, fungsi religius dianggap fungsi paling penting karena sangat erat kaitannya dengan edukatif, sosialisasi danprotektif. Jika fungsi keagamaan dapat dijalankan, maka keluargatersebut akan memiliki kedewasaan dengan pengakuan pada suatu sistemdan ketentuan norma beragama yang direalisasikan di lingkungan dalamkehidupan sehari-hari.
Penanaman akidah sejak dini telah dijelaskandalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 132 yang berbunyi:

ووصىبها إبراهيم ببنيه ويعقوب‘ يا بني إنالله إصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتممسلمون.
Artinya: Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapankepada anak-anaknya, demikian juga Ya’kub. Ibrahim berkata: hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, makajanganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.

Secara garis besar pendidikan dalam keluargadapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1.

Pembinaan Akidah dan Akhlak

Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominanadalah seorang anak dengan dasar-dasar keimanan, ke-Islaman, sejakmulai mengerti dan dapat memahami sesuatu, maka al-Ghazali memberikanbeberapa metode dalam rangka menanamkan aqidah dan keimanan dengancara memberikan hafalan. Sebab kita tahu bahwa proses pemahamandiawali dengan hafalan terlebih dahulu (al-Fahmu Ba’d al-Hifdzi).Ketika mau menghafalkan dan kemudian memahaminya, akan tumbuh dalamdirinya sebuah keyakinan dan pada akhirnya membenarkan apa yang diayakini. Inilah proses yang dialami anak pada umumnya. Bukankah merekaatau anak-anak kita adalah tanggungjawab kita sebagaimana yang telahAllah peringatkan dalam al-Qur’an yang berbunyi:

يا أيهاالذين أمنوا قوا انفسكم وأهليكم نارا.
Artinya: jagalah diri kalian dan keluargakalian dari panasnya api neraka

Muhammad Nur Hafidz merumuskan empat pola dasardalam bukunya. Pertama, senantiasa membacakan kalimat Tauhid padaanaknya. Kedua, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.Ketiga, mengajarkan al-Qur’an dan keempat menanamkan nilai-nilaipengorbanan dan perjuangan.

Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan pembinaan akhlak anak. Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antaraibu, bapak dan masyarakat. Dalam hal ini Benjamin Spock menyatakanbahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikanteladan ataupunidola bagi mereka.

2.
Pembinaan Intelektual

Pembinaan intelektual dalam keluarga memainkan peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baikintelektual, spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitasakan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah sebagaimanafirman-Nya dalam surat al-Mujadalah yang berbunyi:

يرفعالله الذين آمنوا منكم والذين أوتواالعلمدرجات
Artinya: Allah akan mengangkat derajatorang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu diantarakalian.

Nabi Muhammad juga mewajibkan kepadapengikutnya untuk selalu mencari ilmu sampai kapanpun sebagaimanasabda beliau yang berbunyi:
طلبالعلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
Artinya: mencari ilmu adalah kewajiban bagimuslim dan muslimat.

3.
Pembinaan Kepribadian dan Sosial

Pembentukan kepribadian terjadi melalui prosesyang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebihbaik apabila dilakukan mulai pembentukan produksi serta reproduksinalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatarbelakanginya. Mengingathal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat menjagaemosional diri dan jiwa seseorang. Dalam hal yang baik ini adanyaKewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi supportkepribadian yang baik bagi anak didik yang relative masih muda danbelum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocokdilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berprilaku sopan santundalam bersosial dengan sesamanya. Untuk memulainya, orang tua bisadengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orang tua agar kelak sianak dapat menghormati orang yang lebih tua darinya.


BAB III KESIMPULAN

Pengertian dari pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unitsosial terkecil dalam masyarakat. Sebabkeluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalammenanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilakuyang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Kunci keberhasilan pendidikan dalam keluargasebenarnya terletak pada pendidikan rohani dengan artian keagamaanseseorang. Beberapa hal yang memegang peranan penting dalam membentukpandangan hidup seseorang meliputi pembinaan akidah, akhlak, keilmuandan kreativitas yang mereka miliki.
Sedangkan pendidikan dalam keluarga itu sendiri secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Pembinaan akdah dan akhlak
2.Pembinaan intelektual
3.Pembinaan kepribadian dan sosial

DAFTAR PUSTAKA

J. Goode, William, SosiologiKeluarga, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Muhaimin, Pemikiran PendidikanIslam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung:Trigenda Karya, 1993.

Poerwadarminta, W.J.S., KamusBesar Bahasa Indonesia, Jakarta: BalaiPustaka, 1985.

Rahmat, Jalaluddin dan Muhtar Gandatama, KeluargaMuslim Dalam Masyarakat Modern, Bandung:Remaja Rosdakarya, 1994.

Sujana, Djuju, PerananKeluarga Dalam Lingkungan Masyarakat,Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996.

1 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1985, hlm. 702.

2 Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya, 1993, hlm. 127.

3 William J. Goode, Sosiologi Keluarga, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hlm. 33.

4 Jalaluddin Rahmat dan Muhtar Gandatama, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994, hlm. 107.

5 Djuju Sujana, Peranan Keluarga Dalam Lingkungan Masyarakat, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996, hlm. 25.

Ambilan dari laman : http://notok2001.blogspot.com


Wednesday, March 10, 2010

Anak Sebagai Amanah


Oleh Nurul Izzah Sidek


SEBAGAI manusia yang normal akal fikiran dan perasaan, membaca dan melihat laporan akhbar mengenai anak yang anak kecil didera dan diperlakukan secara kejam sememangnya membangkitkan kemarahan yang meluap-luap kepada si pendera.

Soalan yang pasti timbul di dalam sanubari kita ialah mengapakah ada manusia sanggup memperlakukan anak sekejam itu? Tidak kasihankah dengan anak kecil yang tidak berdosa itu? Dan bermacam-macam lagi persoalan yang bermain dalam hati sehinggakan ada antara kita menganggap si pendera seumpama berhati haiwan.

Sekurang-kurangnya haiwan pun sayangkan anak mereka, dijaga dan ditatang sehingga anak mampu berdikari. Inikan pula manusia yang dianugerahkan akal dan hati untuk berfikir dan merasa.

Inilah natijahnya apabila hati dan nafsu tidak mampu bersabar mengekang perasaan amarah dan akal tidak mampu membezakan kebenaran dan kebatilan. Apabila anak-anak tidak dianggap sebagai amanah yang perlu dijaga sebaik- baiknya, maka banyaklah kerosakan yang berlaku yang bakal berlaku.

Anak sebagai amanah, bukan sekadar anugerah

Sudah banyak kali kita membincangkan tentang peri pentingnya memelihara anak seperti permata. Anak-anak kecil sememang tidak bersalah kerana mereka masih tidak matang dan tidak mampu mengawal emosi mereka.

Orang dewasalah yang sepatutnya mengemudi anak-anak mereka dengan tingkah laku yang baik supaya anak-anak membesar dengan binaan sikap, pendirian dan emosi yang teguh apabila menjejak alam remaja dan dewasa.

Peringatan seperti ini sememangnya perlu diulang-ulang bagi menyedarkan golongan dewasa dan ibu bapa.

Mungkin sesetengah ibu bapa lupa bahawa anak itu adalah amanah Allah yang tidak ternilai harganya. Ramai yang tidak mempunyai anak sangat kepinginkan cahaya mata lalu pelbagai cara diusahakan untuk mendapat anak. Ada pula apabila sudah mempunyai cahaya mata, tidak menjaga dan mendidik anak dengan betul dan sempurna.

Mendidik dalam erti kata mestilah mengajar anak akan nilai asas dalam kehidupan, melimpahkan kasih sayang yang sewajarnya kepada anak-anak, membina kekebalan diri anak-anak dari anasir-anasir tidak baik. Mengajar anak akan yang salah dan benar, serta memberi panduan dan pedoman berterusan agar anak membesar menjadi insan yang beriman dan teguh pendirian.

Sememangnya ia tidaklah semudah seperti yang disebutkan. Namun itulah hakikat tanggungjawab ibu bapa terhadap anak-anak. Mendekati remaja menerusi pendidikan perlu bermula pada awal umur lagi.

Jangka waktu yang paling kritikal bagi anak-anak mencapai tahap remaja ialah sejak lahir sehingga ke peringkat akil baligh. Akil baligh merupakan puncak suatu proses membentuk manusia yang sudah boleh berdiri atas kaki sendiri.

Di peringkat inilah perkembangan kognitif (akal-fikir) berlaku dengan subur yang membolehkan anak-anak membuat tanggapan terhadap sesuatu.

Ajaran Islam umumnya tidak menghalang ibu bapa menghukum anak-anak, tetapi mestilah bersifat mendidik, tidak didorong perasaan amarah dan tidak melampaui batas syarak dan kemanusiaan.

Ini kerana trauma daripada zaman malang kanak-kanak boleh menghantui alam remaja serta dewasa seseorang dan lukanya sukar disembuhkan. Ada juga anak-anak yang membesar dengan kejadian dera dan pengabaian menjadi seorang yang agresif, sangat ofensif, serta tidak boleh menerima pendapat orang lain.

Anak-anak bukan sahaja anugerah yang tidak ternilai daripada Allah, malah mereka adalah amanah yang perlu dipelihara sebaik-baiknya. Mereka perlu dididik supaya sentiasa kembali dan berdamping ke jalan Allah dan pangkuan keluarga, sekalipun ada membuat kesalahan agar proses pembaikan boleh berlaku.

Oleh itu, tanggungjawab ibu bapa berjalan sepanjang hayat mereka, bukannya melepaskan tanggungjawab itu kepada pihak lain seperti sekolah atau penjaga.

Ada pula yang menganggap anak-anak sudah pandai berfikir sendiri akan baik buruk sesuatu perkara dan secara mudah menyalahkan anak-anak sekiranya berbuat salah. Walhal ibu ayah sendiri tidak membekalkan anak-anak dengan nilai-nilai asas dalam kehidupan dan didikan agama yang mencukupi.

Watak ibu dan ayah saling melengkapi

Justeru peranan ibu dan ayah amatlah penting dalam pembentukan watak dan pendirian anak. Ibu sering dirujuk sebagai faktor penting dalam pendidikan.

Bapa juga tidak kurang penting membentuk anak dalam kepemimpinan. Bapa adalah lambang ketua dalam sebuah rumah tangga. Didikan ibu dan kepemimpinan bapa boleh memberi perlindungan kepada isteri dan contoh kepada anak.

Pada diri seorang ibu ada unsur penting dalam proses didik, asuhan, kasih sayang, kesabaran dan memiliki kasih sejati terhadap anak. Allah telah memberikan kekuatan dan kesabaran yang tinggi kepada wanita yang bergelar ibu untuk menanggung kesusahan dan kepayahan demi anaknya.

Masakan tidak, seorang ibu sanggup melalui tempoh mengandung dengan susah payah sehinggalah melahirkan anak dalam kesakitan dan kepedihan. Ibu jugalah yang penat berjaga malam untuk menyusu dan menyalin lampin anak, dan bersengkang mata sekiranya anak kurang sihat.

Naluri seorang ibu sememangnya berkehendakkan anaknya sentiasa dalam keadaan sihat dan sempurna.

Ibu adalah pelengkap kepada watak bapa. Ia menjadi faktor penting dalam proses pembangunan zuriat, anak dan generasi. Ibu yang berilmu dan berketerampilan memahami proses pertumbuhan dan pembesaran anak baik dari sudut minda, psikologi, emosi dan tabiat, serta memiliki cara dan kaedah berkesan bagaimana anak harus 'diremaja' dan 'didewasakan'.

Begitu juga dengan si ayah. Menjadi seorang ayah adalah peranan yang payah. Menjadi seorang ayah tidaklah bererti memonopoli segala hak dan tanggungjawab, tetapi dikongsi dan dilalui bersama-sama secara sukarela dan penuh faham tanggungjawab.

Watak ayah tidak sama dengan watak ibu, tetapi Allah menjadikan mereka berpasang-pasang untuk melakukan peranan saling melengkapi.

Dalam masa yang sama, ayah harus berasakan bahawa ibu adalah amanah Allah yang besar. Ibu juga perlu dikasihi dan disayangi. Semangat kebapaan memberi perlindungan, tunjuk ajar, bimbingan dan rasa persefahaman dengan ibu. Ia bakal mewujudkan suasana rumah tangga harmoni dan damai dan memberi contoh yang baik kepada proses pendewasaan anak-anak.

Sekiranya pertumbuhan dan kesuburan yang sedang berlaku kepada anak-anak tidak didekati dengan ilmu dan keterampilan menerusi watak keibuan dan kebapaan nescaya pembesaran anak-anak bakal mengalami kelompangan yang mudah dimasuki oleh unsur-unsur negatif.

Ilmulah yang mampu memberi kekuatan kepada anak-anak supaya apabila besar nanti ia tidak menyebabkan lahirnya kecelaruan di kalangan mereka.

Oleh itu, anak perlu dipedomankan sekiranya berbuat salah, bukannya menghukum sesuka hati apatah lagi mendera dan mengasari mereka tanpa belas kasihan.

Kesimpulan

Bergelar ayah dan ibu adalah nikmat Allah yang tidak ternilai kepada manusia. Bagi mereka yang mengetahuinya, amatlah besar ganjaran yang bakal diperolehi jika menjaga dan mendidik anak-anak dengan sesempurna mungkin.

Tidak dinafikan bahawa kerosakan yang terjadi dewasa ini kebanyakannya berpunca daripada keruntuhan institusi kekeluargaan, ceteknya didikan agama dan moral serta dan kurangnya sikap kepedulian sesama kita.

Tuntasnya, tanggungjawab seorang ibu dan ayah adalah tanggungjawab seumur hidup. Anak-anak kadangkala tergelincir daripada landasan, maka ibu bapalah yang perlu sentiasa mengawasi dan menasihati mereka supaya jalinan corak kehidupan anak-anak menjadi kembali teratur dan harmoni.


Sumber: Utusan Malaysia

Friday, October 23, 2009

How to Raise a Religious Leader?


Our current crisis and the apparent lack of leadership throughout this nation's history always force us to ask why we can't have great leaders. Why can't we have another Omar bin Abdul-Aziz, Nourul-Deen Mahmoud, Othman the first or Saladin? Then the question comes to benefit this study: how can we get such a leader?


We should look at the moral structure of one of those great religious leaders. We will bypass the three centuries between now and then so that nobody says that 'the time was good, preparation was easier then' and that 'this is inapplicable in our bitter reality'.


The subject of our study is the sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmet II). He is Muhammad Khan II son of the Ottoman Mourad II, the seventh sultan in the family of Al-Othman, called Al-Fatih (the conqueror) and Abil-Kheyrat (wealth bringer); he was born in 833 hijri. He was the second of his brothers; he had an elder brother called Alaa'din who was martyred in preaching.

Muhammad II was raised since his early childhood on the importance of heroicness, leadership, preaching and right house. The father of the sultan Mourad II used to raise his children to carry on his job after him. His father left him to a number of teachers and scientists to raise him on the Islamic manners and principles. His father noticed his desire to play and have fun and his inattention to his teachers, so he asked Mourad II for a teacher that could control this boy Muhammad. He was told that the scientist Ahmad 'ibn Ismail Al-kori was the best to do the job. Mourad II summoned him and gave him a rod to beat Muhammad with if he didn't learn from him. So Al-kori went to Muhammad -with the rod in his hand- and told him your father has sent me to teach you and beat you if you disobey me. Muhammad laughed, so he beat him severely until he was afraid of him and recited the whole Qur'an in a short period of time. He then taught him Islamic sciences and read to him books of history. Muhammad excelled beyond all of the other princes and managed to learn to speak three languages: Turkish, Persian and Arabic. Sultan Mourad II was keen to push his young child to leading positions, even though he was only twelve years old. When he saw his competence he promoted him to higher positions and gave him the Sultanate when he was fourteen years old. Mourad isolated himself to worship but he didn't leave his project, hopefully a great leader that can face the external enemies and internal protesters. He kept watching his project so that he could interfere if he had to. He interfered twice - once when Christian Europe declared war on the Ottomans because of their sultan's young age, causing Mourad come out of solitude and lead the Muslims to a glorious victory in the battle of Varna on 28th Ragab 853 hijri. The other occasion came when internal disturbances arose provoked by the soldiers of Al-Ankeshariea thinking their sultan wasn't strong enough, so Mourad II defeated them.


Preparing leaders is no easy matter. It cannot be left to circumstances without planning and consideration, nor is it a matter of individual geniality of one person who crosses the rows to attain leadership. It is a tiring and long procedure that starts from early childhood to enrich the talents, explore the skills and increase the powers in sequential procedures to raise the leader.


This preparation should not stop on the religious part. It is a matter of the complete construction of a leader that will lead a nation. He will lead the nation through its life, full of unknowns and new matters that join ancient and modern.


The practice of the leader's job reveals the suitability and seriousness of the leadership project, and the correctness of the proposed model. Some leaders do not show defects outside the government but when they are cast into the field their defects appear. That is why the father was keen to test his son Muhammad. He made him leader of a small estate first as practice, then leader of the whole country without leaving him. He stayed with him until he was strong enough, despite the many bitter experiences.


The scientist, Ahmad 'ibn Ismail Al-Kori:

He used to teach Muhammad to recite the Qur'an, he used to read him the religious books, he raised him to respect Allah's orders and to comply with the Shari'a laws and he taught him to fear Allah. This honourable teacher used to ignore the Governors' orders if they contradicted Allah's laws. He never knelt before a sultan, and he used to address them by name directly, and he used to greet them without kissing their hands. That is why we can see the great effect the man had on Muhammad, where we find him, as a governor, respecting the Shari'a, religious scientists, who killed one of his followers because he beat a judge and refused to execute his judgement. We find Muhammad Al-Fateh choosing his followers and friends from the scientists and good people. He never heard of a poor scientist without helping him. He would conduct a meeting in Ramadan after Zuhr (noon) prayer, assisted by the prominent scientists in tafseer (deciphering the meaning of Qur'anic verses), where each of them would speak about one verse and discusses it with the other scientists, and the Fatih shared this with them. When he defeated the chief Al-Turkuman Hassan Al-Taweel, a man who used to attack, betray them and ally with any group other than the Ottomans, Al-Fateh ordered to kill the captives except the scientists like the judge Muhammad Al-Shurehy, who fought unwillingly with Al-Taweel, and was one of the best scientists of his time. Al-Fateh was generous to him because of his knowledge despite his attack.

The second teacher was Al-Sheikh Muhammad bin Hamza al-Rrouhy, known as Ba'q Shams Al-din. This scientist had a great effect on the life of the leader Muhammad Al-Fateh as he instilled him on two great matters:

1- Increasing the Ottoman preaching movement

2- Convincing Muhammad that he can be the prince mentioned in the Hadith, "He who conquers Constantinople will be the best of princes and his army will be the best of armies." To make Muhammad sure he was meant by this Hadith the first thing he made him do in his government was to prepare to bring Islamic rule to Constantinople and he did it.

In fact, because of his influence, the historians call Shams Ad-din the spiritual conqueror of Constantinople. This Sheikh taught Muhammad the sciences, such as mathematics, astronomy, history, and methods of war, and he gave Al-Fatih a lesson in his childhood that he never forgot; a lesson that revealed how well this Sheikh understood the raising and upbringing of a religious leader. One day he called Al-Fateh and beat him so severely that Al-Fateh cried a lot and remembered that day when he was sultan in his father days. He called his Sheikh and asked him angrily, “Why did you beat me that day without me doing something that deserves beating?” His Sheikh told him, “I wanted to show how unfairness tastes, to prevent you from being unfair to anyone when you take leadership”, so Al-Fateh apologized to his Sheikh.After conquering Constantinople, Al-Fateh wanted to retire and devote himself to worship of Allah. When asked his Sheikh this, he replied, “if you went into solitude you will find a joy that exceeds the government in your eyes, and things will be confused. What you are doing is better than solitude.” This statement shows great understanding from the teacher.
Just like this religious scientist raised his student to take leadership, on great manners and held him to a noble aim, where he sought it and directed all his powers towards it, certainly this was for the welfare of the whole Ummah (nation).


AmrKhaled.net © جميع حقوق النشر محفوظة
This Article may be published and duplicated freely for private purposes, as long as the original source is mentioned. For all other purposes you need to obtain the prior written approval of the website administration. For info: dar_altarjama@amrkhaled.net

Thursday, October 8, 2009

Mari Membaca :)


Laman Zero to Three disediakan oleh National Centre for Infants, Toddler and Family, US. Pelbagai kaedah dan tips pembangunan kognitif (pemikiran), fizikal, sosio-emosi kanak-kanak berusia 1-3 tahun digarap dengan bahasa dan teknik penyampaian yang mudah.




Artikel/tips terkini boleh dilanggan secara percuma melalui e-mail.


Nota: Selamat membaca! :)

Monday, August 24, 2009

Tekanan Pelajar untuk Berjaya




Oleh MD. ZAN SAARI


KEPUTUSAN peperiksaan utama dalam negara seperti Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) dan Sijil Tinggi Pelajaran Malaysia (STPM) kini sudah diketahui, justeru pelajar serta ibu bapa kini mula mencongak apakah tindakan seterusnya dalam menentukan masa depan mereka.Kepada mereka yang berjaya, sudah tentu akan merasakan hasil usaha dan penat lelah selama ini kini berbaloi. Lebih penting lagi, mereka telah menjadi contoh terbaik bukan sahaja kepada rakan-rakan tetapi adik beradik di bawah mereka, terutamanya di sekolah rendah. Bagi mereka yang sudah berjaya dalam peperiksaan masing-masing dan mempunyai adik yang bakal menduduki peperiksaan mereka pula, anda secara tidak langsung telah menetapkan tanda aras (bench mark) kepada adik-adik anda.


Di sini secara tidak langsung, ia memberikan tekanan kepada adik-adik dan pelajar yang belum menduduki peperiksaan, untuk berjaya seperti abang-abang dan kakak mereka.Ia ditambah lagi apabila kedengaran ayat-ayat seperti “Abang/kakaknya sudah berjaya, jadi sekarang saya mahu lihat adiknya pula bagaimana” daripada ibubapa masing-masing.Akan tetapi benarkah kejayaan dalam peperiksaan seperti SPM dan STPM begitu penting sekali hingga jika ´kurang berjaya´ atau tidak seperti diharapkan, ia bermakna anda akan gagal dalam hidup atau habis begitu sahaja ?


Tentu tidak. Suasana pembelajaran sekarang sudah jauh berubah berbanding satu ketika dahulu, lantas memberikan cabaran yang cukup berbeza bukan sahaja kepada para pelajar, malah ibu bapa dan keluarga terdekat para pelajar sendiri.Dengan tekanan dan harapan yang cukup tinggi daripada ibu bapa dan persekitaran, para pelajar dari satu segi sebenarnya agak ditekan untuk berjaya di sekolah berbanding waktu dahulu.Sekadar berjaya memperolehi A dalam kesemua mata pelajaran yang diambil kini tidak cukup untuk menjamin tempat mereka di sekolah yang lebih baik atau menara gading sekalipun, justeru para pelajar disogokkan pula dengan pelbagai aktiviti kokurikulum selepas sekolah bagi memastikan mereka dapat bersaing.


Jika itu tidak cukup, ibu bapa pula menghantar anak-anak ke kelas-kelas “tambahan bukan akademik” seperti pembelajaran piano dan alat muzik lain, kelas renang, seni mempertahankan diri dan sebagainya. Fenomena ini kini bukan sahaja melanda pelajar sekolah menengah tetapi juga mereka di sekolah rendah.Malah tidak keterlaluan jika dikatakan pelajar-pelajar sekolah rendah ditekan dengan lebih kuat, dengan alasan untuk memberikan mereka asas terbaik bagi memastikan mereka berjaya.Memang terdapat kewajaran berbuat denikian kerana tuntutan alam pendidikan dan kerjaya ketika ini yang begitu mencabar, hanya yang mempunyai kelebihan sahaja akan berjaya menempatkan diri mereka di kedudukan yang lebih baik. Pun begitu haruslah terdapat batasan yang perlu dipatuhi bagi memastikan anak-anak tidak akan tertekan dengan keadaan tersebut.


Sememangnya seseorang pelajar itu akan dihormati, malah menjadi terkenal sekiranya memperolehi berbelas-belas A dalam peperiksaannya, namun bukan bermakna dia yang paling hebat. Mungkin pelajar berkenaan memang pintar dalam pelajarannya namun tidak semestinya dia juga cemerlang dalam kokurikulumnya.


REAKSI IBU BAPAIa merupakan sesuatu yang normal jika ibu bapa merasa khuatir sekiranya anak-anak tidak menunjukkan keputusan seperti diharapkan mereka. Ia juga normal jika anak-anak tersebut dimarahi akibat kegagalan mereka itu.Namun harus dingat, perbuatan memarahi anak-anak tersebut (dalam kes ini pelajar sekolah rendah) perlu dilakukan secara membina bagi meningkatkan prestasi mereka, jika tidak ia akan hanya menambahkan kepada masalah sedia ada pada pelajar berkenaan.Justeru sebenarnya apa yang terbaik dapat dilakukan sekiranya anak-anak pulang ke rumah dan menunjukkan kad laporan kemajuan yang kebanyakan markahnya cantik berwarna merah ?


LAIN DAHULU LAIN SEKARANGPakar-pakar motivasi menyarankan agar ibu bapa supaya bertenang terlebih dahulu dan memotivasi anak-anak berbanding terus menyalah dan memarahi mereka. Kita tidak mahu mereka mendengar ayat-ayat seperti “ Buat habis duit aku hantar pergi sekolah” atau “ Aku hantar pergi sekolah suruh belajar, bukan bercinta” kepada anak-anak.


Anak-anak sekarang lebih terbuka mindanya serta bijak dan memerlukan pendekatan berbeza bagi membuka pintu hatinya menerima nasihat ibu bapa.Berbeza dengan pelajar sekolah menengah, mereka yang berada di sekolah rendah kadangkala mempunyai masalah kecil yang pada anda remeh, namun mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang cukup membebankan.


Antara yang sering berlaku dan menimbulkan masalah kepada ibu bapa ialah apabila anak-anak: * Mengadu tentang rakan sekelas/guru

* Pulang dari sekolah dan kelihatan kecewa/marah

* Cemerlang dalam sesetengah matapelajaran, namun lemah matapelajaran lain

* Membuat kerja sekolahnya di saat akhir

* Sukar berinteraksi dengan rakan di sekolah

* Dibuli atau membuli

* Sukar memahami matapelajaran di sekolah

* Tidak suka kepada guru

* Cemburu melihat rakan mempunyai pakaian atau alatan sekolah yang lebih baik


Selepas masalah yang menimpa anak-anak anda dikenalpasti, adalah lebih mudah untuk menyelesaikannya.


TINGKATKAN KEYAKINANNYA


Ia merupakan salah satu cara terbaik bagi memperbaiki prestasinya. Selidik kemahiran yang dipunyai oleh anak-anak anda dan aplikasikannya kepada kaedah pembelajaran mereka. Jika adik beradik mereka yang lain mempunyai kemahiran berbeza, aturkan supaya mereka saling mengajar antara satu sama lain. Jangan segan atau lokek untuk memuji anak-anak anda sekiranya mereka beroleh kejayaan.


TEMUI ATAU HUBUNGI GURU


Jumpa dan berbincang dengan guru-guru anak-anak anda berhubung prestasi mereka. Tanyakan apa yang tidak kena dengan anak-anak anda, dan apa yang anda boleh lakukan untuk memperbaikinya.


TETAPKAN SASARAN


Sekiranya anak-anak berjaya dimotivasi bagi menetapkan sasaran untuk dicapai, mereka akan berusaha untuk mencapainya. Sebagai permulaan, tetapkan sasaran mudah untuk dicapai sebelum menyasarkan untuk sesuatu yang lebih besar. Pastikan juga sasaran yang mudah itu berjaya dicapai oleh mereka terlebih dahulu.


PASTIKAN ANAK ANDA CERGAS


Anak-anak zaman ini, terutamanya pelajar sekolah rendah lebih cenderung kepada permainan seperti Play Station, X Box serta peraminan di komputer peribadi dan sebagainya berbanding aktiviti fizikal.Ini menyebabkan mereka kurang mengeluarkan peluh. Sesekali, ajak dan sertai mereka dalam kegiatan permaian seperti bola sepak, badminton dan sebagainya.Tidak peru pergi jauh untuk menjalankan aktiviti kelurga yang mengeluarkan peluh. Sekiranya anda tinggal di rumah teres, ajak anak-anak anda untuk membersihkan halaman atau menanam sayuran. Senaman memperbaiki edaran darah anak-anak, sistem penghadaman serta menggalakkan aliran oksigen. Ingatkan juga mereka untuk sentiasa bersenam, walau tanpa kehadiran anda.


BERSABAR


Akan ada seribu satu masalah dalam memastikan anak-anak anda berjaya di sekolah rendahnya, namun perkara yang paling penting ialah untuk ibu bapa bersabar dalam menghadapinya. Seribu satu alasan akan diberikan oleh anak-anak dalam seribu satu keadaan, namun kuncinya adalah kesabaran.


Tokoh Ibu Mithali 2007, Hajah Eshah Din membesarkan 17 orang anaknya hingga masing-masing berjaya. Lebih membanggakan ia dilakukan dalam keadaan di mana dirinya dan suaminya hidup dalam kedaifan hingga dia terpaksa menoreh getah bagi mencari pendapatan walaupun ketika dia sarat mengandung.Jika warga emas ini berjaya melakukannya, mengapa tidak kita. Gagal di sekolah atau tidak menonjol di sekolah bukan bermakna anak ada akan gagal selamanya. Kadangkala dia akan berjaya di kemudian hari dalam hidupnya (late bloomer).


Dalam riwayat Ibu Najar, Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha mencari harta dengan jalan yang halal dan membelanjakannya dengan cara sederhana dan berhemat serta menabung kelebihannya untuk hari susah dan hajatnya.” Jelas kini bahawa Islam sendiri tidak menggalakkan umatnya berputus asa, sebaliknya melipat gandakan usaha sekiranya ditimpa sebarang kesukaran.


Kejayaan mencapai begitu banyak A dalam peperiksaan bukan jaminan untuk pelajar melanjutkan pelajarannya ke peringkat yang lebih baik, sebaliknya memerlukan kombinasi pelajaran dan penglibatan aktif dalam kokurikulum.Sekiranya anak anda gagal untuk mencapai keputusan cemerlang dalam pelajarannya di sekolah , dengan sekadar kelulusan yang sederhana sahaja, ia bukan bermakan dia akan gagal dalam kehidupannya.


Terdapat begitu banyak contoh tokoh-tokoh berjaya ketika ini merupakan pelajar yang sederehana atau mereka yang tidak belajar hingga ke peringkat tertinggi.Di negara ini, antara yang boleh dijadikan contoh ialah Tan Sri Syed Mokhtar Al-Bukhari (Malakof Holding, Crocodile, MPH Bookstores) dan Tan Sri Lim Goh Tong (Kumpulan Genting). Melihat ke peringkat antarabangsa pula, kita dapat ambil contoh daripada Thomas Alva Edison (saintis) dan J.K. Rowling (penulis novel Harry Potter).Kesemua mereka tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, namun mempunyai semangat untuk berjaya yang tinggi, lantas membolehkan individu-individu ini begitu berjaya kemudiannya.


Nota: Ambilan dari laman YADIM



Thursday, August 20, 2009

Membina Jati Diri Anak


Oleh ZUHAYATI YAZID


MENJADI tanggungjawab ibu bapa untuk mendidik anak secara seimbang sama ada dari segi jasmani mahupun rohani.


Ini kerana anak adalah anugerah dan amanah Allah SWT yang tiada galang-gantinya kepada pasangan yang bergelar ibu dan bapa.


Sememangnya menjadi impian ibu bapa untuk melihat anak-anak mereka menjadi manusia yang terbilang di dunia dan juga di akhirat.


Langkah awal ke arah itu sudah pastinyalah ialah dengan mencurah perhatian dan kasih sayang tanpa berbelah-bagi.


Ketua Subunit Seksualiti Bahagian Reproduksi Manusia Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Negara (LPPKN), Dr. Hamizah Mohd. Hassan berkata, anak yang mendapat kasih sayang dan perhatian secukupnya akan membesar sebagai insan mempunyai jati diri yang teguh.


Dalam memberi kasih sayang apa yang penting ibu bapa harus bersikap adil kepada setiap anak tanpa tanpa ada perasaan beza membeza.


Malah kata Dr. Hamizah, Rasulullah SAW pernah bersabda yang antara lain berbunyi:


"Berlaku adillah kamu di antara anak-anak kamu dalam memberi hadiah sebagaimana kamu suka mereka berlaku adil di antara kamu dalam kasih sayang." Hadis riwayat at-Tabrani.


Berdasarkan hadis tersebut, jelaslah katanya, dalam mendidik anak ibu bapa mesti menjauhi sifat yang membawa kepada wujudnya rasa berbeza dan tidak adil kepada anak -anak.


"Membeza-bezakan kasih sayang hanya akan menyebabkan anak-anak berasa kecil hati dan boleh membuahkan sifat dendam yang mendalam di kemudian hari.


''Sebaiknya dalam kehidupan seharian, penuhilah dengan suasana senda gurau dengan anak-anak bagi merapatkan hubungan baik dalam keluarga,'' katanya.


Beliau berkata demikian ketika menyampaikan ceramahnya dalam siri Seminar Keibubapaan anjuran LPPKN di Kuala Lumpur, baru-baru ini.


Sementara itu Dr. Hamizah juga menyarankan agar ibu bapa menggunakan kaedah piskologi dalam mendidik anak-anak terutama yang menginjak ke usia remaja.


''Seperti juga anak kecil, anak remaja turut memerlukan perhatian, masa, kasih sayang dan panduan daripada ibu bapa,'' ujarnya.


Menurutnya, pada peringkat usia tersebut anak-anak sudah mempunyai perasaan malu dan tindakan ibu bapa misalnya menggenakan hukuman rotan jika mereka melakukan kesalahan dirasakan kurang bijak.


"Sebaiknya cuba gunakan psikologi seperti berbincang dengan anak atau mendapatkan bantuan daripada kawan -kawan rapatnya .


"Kehidupan zaman remaja ibarat waktu emas yang sangat berharga. Ia juga merupakan zaman peralihan antara kanak-kanak kepada lebih dewasa.


''Pada peringkat usia ini mereka biasanya mahukan kebebasan dan tidak suka dikawal. Di sinilah peranan ibu bapa untuk mengawal tingkah laku anak-anak dan pada masa sama memberi sedikit kebebasan agar anak-anak tidak berasa diri mereka dikongkong sehingga menimbulkan perasaan ingin memberontak.


"Usia remaja merupakan tempoh yang kritikal kerana mereka lazimnya cenderung bertindak mengikut perasaan tanpa berfikir panjang.


''Mereka seperti layang-layang yang mana talinya perlu sentiasa dijaga agar tidak terputus dan hilang kawalan.


"Pada peringakat ini juga kebanyakan remaja akan dilanda konflik dalaman. Pelbagai persoalan hidup dan perubahan fizikal serta mental akan wujud pada diri mereka.


''Kadang kala timbul krisis identiti diri, perasaan tertekan, mudah kecewa dan tidak dapat mengawal kemarahan. Pada masa sama timbul desakan-desakan dalam diri untuk mencuba sesuatu yang baru,'' katanya yang mempunyai pengalaman lebih 10 tahun dalam bidang kauseling.


Beliau menambah, pelbagai konflik tersebut jika tidak ditangani dengan bijak melalui tunjuk ajar dan bimbingan ibu bapa dikhuatiri akan menjadi punca anak-anak remaja terjebak dalam pelbagai gejala sosial.


Tambahnya, dalam berdepan dengan situasi tersebut ibu bapa seharusnya berbincang dan berkongsi secara terbuka dengan anak-anak.


''Ini termasuklah dalam isu berkaitan pendidikan seks. Hal ini penting bagi memberi gambaran sebenar kepada anak, malah jika diberi keterangan secara terbuka ia akan memberi kefahaman meluas kepada anak-anak.


''Kita perlu sedar bagaimana kita boleh mengatur langkah untuk menjana jati diri remaja agar apabila dewasa kita boleh memungut hasilnya sebagai anak yang bukan sahaja cemerlang di dunia tetapi juga di akhirat.